TRANSLATE

Kamis, 30 Mei 2019

KEBANGKITAN KEMBALI NAHDLATUL ULAMA


Sebagai komunitas muslim terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) akhir-akhir ini kembali dihadapkan pada pertarungan wacana (ghozwul fikr) yang keras dengan berbagai ormas dan gerakan yang mengusung paham-paham keislaman yang beragam. Hadirnya wacana Islam Nusantara merupakan salah satu upaya NU dalam pertarungan tersebut. Islam Nusantara pada dasarnya merupakan upaya NU untuk turut mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara dengan corak keislaman a’la nahdliyyah, yang di antara ajarannya dikemas dalam manhaj ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja).
“Kompetitor” NU sebenarnya tidak terlalu banyak dibanding jumlah nahdliyyin baik secara jam’iyyah maupun jama’ah, tapi gaungnya terkesan jauh lebih besar dan lebih berasa. Kecanggihan para “kompetiror” NU bahkan mampu membuat banyak nahdliyyin tidak sepakat dengan gerakan yang diusung oleh PBNU tersebut. Karena itu diperlukan pencanggihan ikhtiar kalangan nahdliyyin agar harapan para pendiri NU benar-benar memberi warna bagi kemajuan bangsa ini.
Dinamika Kontemporer
Merebaknya terorisme, radikalisme dan kekerasan atas nama agama (Islam) akhir-akhir ini mematik beragam respon, mulai dari yang konon disebut sebagai Islamo-phobia, apresiasi terhadap Islam hingga tuntutan rekonseptualisasi peran Islam dalam kehidupan kekinian. Bahkan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, akhir-akhir ini bukan disibukkan oleh kekhawatiran atas dominasi tradisi sekuler (Barat) atau kecenderungan komunis dan atheisme, tapi oleh problematika klasik di antara umat Islam sendiri. Dunia Islam justru “direpotkan” oleh menguatnya paham-paham radikal yang potensial besar membuahkan kekerasan, teror bahkan perang sesama muslim.
Gejala serupa juga terjadi di Indonesia, di mana radikalisme tumbuh subur di berbagai lini dan hampir-hampir mendominasi setiap sudut ruang publik. Suara-suara Islam yang sebelumnya penuh damai dan sarat edukasi tenggelam oleh wacana-wacana yang mengancam kedamaian serta masa depan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bangsa dan umat yang susah payah dipersatukan tiba-tiba terseret ke dalam suasana permusuhan meski masih sebatas wacana dan ujaran-ujaran kebencian.
Rendahnya kenegarawanan para politisi membuat situasi ini semakin memanas, sebab kaum radikal adalah “aset politis” yang secara mutual sering dimanfaatkan untuk menggerakkan dukungan politik. Besarnya militansi, kuatnya jaringan, kepintaran memainkan media massa dan media sosial, serta kecanggihan memainkan hoax mampu mengubah persepsi masyarakat tentang pilihan politiknya, sekaligus menyepakai pemikiran dan cara-cara mereka dalam beragama.
Muara akhir mereka sangat jelas, yaitu mengambil alih kendali politik dan pemerintahan, untuk kemudian mengubah arah kebijakan sosial, ekonomi, politik bahkan agama sesuai kehendaknya. Setelah gerakan teror gagal menarik simpati umat Islam, mereka berusaha menggoyang sendi-sendi kehidupan sosial politik dan kebangsaan melalui kampanye yang sangat massive. Mereka memiliki semua instrumen yang diperlukan untuk mewujudkan ambisinya, mulai organisasi massa dengan struktur dan sistem yang kuat, media massa, media sosial, serta lembaga-lembaga sosial dan pendidikan.
Pengalaman naif umat Islam di Irak, Suriah dan Libya telah membuka mata banyak penguasa muslim untuk mengubah haluan. Bukan hanya haluan politik, banyak pemerintahan di negara-negara muslim kembali membangun wacana tentang Islam yang toleran. Arab Saudi yang sebelumnya sangat getol mengkampanyekan paham wahabi berusaha mengubah arah kebijakannya tentang Islam. Tidak sedikit negara muslim di Timur Tengah dan Asia Selatan yang belajar pada Indonesia, terutama NU, dan berupaya mengembangkan tradisi keagamaan serupa di negaranya.
Mengapa NU?
“Kebangkitan” kembali NU akhir-akhir ini adalah momentum penting dalam mereduksi menguatnya radikalisme di Indonesia. Di antara berbagai elemen bangsa ini, kekuatan yang paling mungkin membendung laju gerakan radikal dan destruktif bagi bangsa ini adalah NU.
Hal ini dikarenakan “the nature” NU adalah gerakan Islam yang berbeda dari gerakan Islam manapun di negeri ini. Sejak awal berdirinya, NU adalah gerakan yang “melawan arus” (khariqul ‘adah) sejarah. Hampir semua gerakan politik dan keagamaan di Indonesia pada masa awal kemerdekaan berkiblat ke Eropa dan Timur Tengah. Kaum nasionalis, sosialis, komunis, dan modernis berdiri dengan membawa paham atau minimal diinspirasi oleh paham dan pemikiran yang berkembang di Barat dan Timur Tengah. Hal ini berbeda dari NU yang justru dengan bangga mengusung paham, pemikiran dan tradisi keagamaan yang sudah mendarah-daging di nusantara.
Islam memang dari Timur Tengah, tetapi di Indonesia sudah menjadi kekayaan lokal (local wisdom) hingga menampilkan keunikan dan berbagai kekhasan tradisi keagamaan. Tradisi-tradisi tersebut banyak yang tidak dikenal di tanah kelahiran Islam, Arab maupun kawasan lain, tetapi diterima sebagai  bagian dari kehidupan umat Islam di nusantara.
Ini menjadikan NU sejak awal sudah lebih nasionalis dibanding mereka yang berpaham nasionalis. Nasionalisme NU bukan sebagai doktrin yang diajarkan secara verbal dan doktriner melalui pelatihan-pelatihan. Bila nasionalisme diibaratkan rasa cinta, nasionalisme NU bukanlah cinta yang didengungkan lewat syair dan lagu, tetapi cinta yang melampaui semua kata-kata. Tokoh-tokoh nasionalis pada umumnya bangga memakai busana modern, tapi tokoh-tokoh NU periode awal tidak canggung berbusana khas pesantren meski berada di forum-forum internasional. Mereka begitu lekat dengan berbagai khazanah kebangsaannya sendiri dibanding yang datang dari luar.
Sebagai entitas sosial berbasis local wisdom, NU memiliki kematangan politik lebih di atas entitas lain di negeri ini. NU merupakan ormas dan gerakan yang mewarisi kultur masyarakat nusantara yang toleran karena lekat dengan tradisi tawasuth dan tawazun. Kematangan itulah yang mengantarkan NU menjadi entitas politik yang paling mudah menjalin kerjasama di masa demokrasi konstitusional (liberal). Sebelum NU terjun langsung ke arena politik secara mandiri, pembentukan pemerintahan selalu berlangsung alot dan kalaupun berhasil terbentuk, pada umumnya kabinet tidak bertahan lama. Berbeda halnya ketika NU berdiri menjadi partai politik, pembentukan pemerintahan sangat mudah dilakukan dan bertahan lama.
Keluarnya NU dari politik pada kurun awal Orde Baru menjadi langkah cerdas dan bijak (strategis) di tengah berbagai perubahan politik pada era-era sesudahnya. NU dapat berperan sebagai kekuatan civil society yang sangat berpengaruh di negeri ini. Bahkan sejarah mencatat bahwa berakhirnya Orde Baru pada dasarnya tidak lepas dari kontribusi NU, meski penyelesaian akhirnya ada di tangan para politisi.
Akhir-akhir ini kontribusi NU kembali dibutuhkan di tengah munculnya berbagai ancaman konflik dan perpecahan yang mengatasnamakan agama. Sebagai ormas dan gerakan, yang menurut para pengamat disebut asosiasi tradisi, NU merupakan ormas yang mempunyai pengalaman dan kemampuan mengelola perbedaan dan menghindari konflik. Cita rasa Islam Indonesia yang dikenal toleran oleh masyarakat dunia pada dasarnya dikarenakan Islam yang dominan di negeri ini adalah Islam khas an-nahdliyah, meski secara formal bukan jama’ah NU. Ini menjadikan NU punya potensi besar untuk dikokohkan sebagai mainstream keislaman di negeri ini dan seluruh dunia yang mampu menjamin berlangsungnya relasi kemanusiaan yang pluralism.
Menuju Kekuatan Baru
Modalitas NU yang sedemikian kuat tidak ada artinya bila tidak disertai dengan penataan kekuatan organisatoris yang baik. Apalagi berbagai kelebihan NU tersebut bukan tidak ada kelemahan, dan di antara kelemahan yang paling mendasar terletak pada kekuatan organisasinya. Akibatnya gerakan-gerakan NU relatif kurang tersistem, kurang terstruktur dan terkesan insidental. Sebagaimana pengalaman berhadapan dengan PKI, NU baru bergerak ketika situasi benar-benar menuntutnya untuk bergerak.
Hal ini tentu kurang menguntungkan, mengingat NU pada dasarnya merupakan “sasaran tembak” semua kekuatan Islam baru di negeri ini. Bahkan sejak era pergerakan nasional, gerakan-gerakan Islam yang berkembang sejak masa itu menjadikan NU sebagai sasaran kritik, sasaran dakwah yang harus mereka taubatkan. Sampai saat inipun tradisi NU masih sering menjadi sasaran kritik dan cemoohan dan relatif tanpa perlawanan. Meski tidak mudah, generasi-generasi NU seharusnya diajarkan menyatukan pandangan sehingga mampu menangkal gerakan-gerakan serupa menyasar nahdliyyin.
Generasi-generasi muda NU perlu diarahkan untuk membangun wacana dan tradisi yang mudah diterima berbagai kalangan, terutama menjangkau kelas menengah. Sangat boleh jadi, kalangan muda NU melakukan rebranding terhadap ajaran dan nilai-nilai aswaja sehingga lebih mudah dipahami dan diterima masyarakat yang selama ini di luar cakupan NU.
NU juga perlu mengisi lini-lini perjuangan di luar mengelola madrasah, pesantren dan perguruan tinggi agama. Hal ini dikarenakan mayoritas posisi-posisi strategis di berbagai instansi pemerintahan dan perusahaan didominasi lulusan sekolah umum, kejuruan dan perguruan tinggi umum. Merekalah yang nantinya mengisi kelas menengah di negeri ini, yang suaranya menggema di seantero negeri.
Ikhtitam
Ditetapkannya hari santri merupakan momentum berharga bagi NU sebab ini menyangkut eksistensi NU dan kelangsungan Islam a’la ahlus sunnah wal jama’ah. Hari santri tak seharusnya hanya menjadi momentum ceremonial yang tak bermakna. Seharusnya momentum ini menjadi tonggak penyadaran bagi nahdliyyin dan terutama kalangan mudanya untuk mengenali peluang dan tantangan yang dihadapi, serta meningkatkan kapasitasnya sehingga mampu berkontribusi lebih besar dalam mengatasi berbagai tantangan bangsa ini.

Tidak ada komentar: