TRANSLATE

Rabu, 09 Desember 2009

GURU ITU LAKSANA NABI

Misi utama guru adalah mencerdaskan, mencerahkan, dan membebaskan anak manusia dari kebodohan. Misi tersebut kurang lebih sama dengan misi yang diemban oleh para nabi dan rasul. Oleh karena itu, kadaa ayyakunal mu’allimu rosuula, yang berarti “guru itu laksana rasul”.
Hal ini sejalan dengan tinjauan ilmu jiwa (psikologi) pendidikan, bahwa idealnya seorang guru adalah manusia berkepribadian profetik (kenabian), yaitu orang baik, berilmu dan jiwanya terpanggil untuk mendidik orang lain.
Sebagaimana nabi, mereka memiliki mental dan kepribadian jujur (shiddiq), cerdas (fathonah), penyampai/pengajar yang baik (tabligh), dan konsekwen (amanah). Sebagaimana halnya para nabi, mereka memiliki pengetahuan dan ditunjang dengan jiwa perjuangan penuh keikhlasan.
Di kampung-kampung, kita pasti sering menjumpai orang yang dengan suka rela mengajari anak-anak mengaji, beribadah, dan berbagai ketrampilan. Mereka melakukannya tanpa ada yang menyuruh, tidak ada yang membayar, tidak membuatnya dipandang istimewa, bahkan tidak jarang dibenci oleh orang sekitar. Meski demikian, mereka tetap bersemangat mengajar dan melakukan segala cara agar anak didiknya menguasai apa yang dia ajarkan.
Mereka adalah orang yang berusaha mencerdaskan orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Mereka itulah sebagian diantara gambaran orang-orang yang memiliki jiwa keguruan, jiwa kenabian meski bukan nabi.
Bagaimana dengan guru-guru di sekolah? Apakah mereka juga termasuk ke dalam kategori guru yang demikian? Jawabannya tentu sangat tergantung pada yang bersangkutan. Bilamana guru di sekolah bekerja karena panggilan hati nurani dan bukan semata karena imbalan materi, mengedepankan pengabdian dan menyisihkan ego, serta berambisi tinggi untuk membuat anak didiknya pandai, tentu saja mereka termasuk guru-guru profetik.
Sebagai manusia normal, mereka tentu membutuhkan uang, tetapi mereka bekerja bukan semata-mata demi uang. Pada mayoritas sekolah swasta dapat dijumpai guru-guru yang hanya dibayar kurang dari 100 ribu/bulan, tetapi itu tidak sedikitpun mengurangi semangat pengabdian mereka.
Guru-guru teladan pemerintah, dan guru-guru yang memiliki kontribusi luar biasa pada anak didik pada umumnya juga tidak terlalu mentereng secara ekonomi. Guru-guru pesantren besar bahkan masih banyak yang tetap semangat meski hanya diberi imbalan uang sabun. Soal kesejahteraan (ma’isyah) mereka bersandar pada prinsip in tanshurullah yanshur kumullah, bila kamu menolong Allah, Allah pasti menolongmu.
Meski demikian, memang ada orang yang sebenarnya tidak memiliki jiwa keguruan, tetapi menjadi guru hanya karena panggilan nasib, tidak punya pekerjaan. Di sekolah, mereka inilah yang biasanya suka meributkan masalah kesejahteraan materi dan miskin semangat perjuangan. Guru yang demikian sebaiknya tidak menjadi guru dan berada di sekolah, sebab mental dan kepribadiannya dapat berpengaruh buruk pada anak didik.
Guru yang berkepribadian keguruan, guru bermental kenabian, atau guru yang profetik tidak akan merendahkan kemuliaan tugasnya. Meski gaji mereka tidak banyak, mereka tidak akan rela bila dibanding-bandingkan dengan gaji buruh bangunan atau makelar kambing, karena nilai perjuangan mereka jauh lebih berharga dibanding apapun.
Selamat hari guru.
Posting Komentar