TRANSLATE

Jumat, 25 Februari 2011

SUKSES ITU JADI PEGAWAI?


Karena sedang merintis usaha, dua tahun lalu aku berkunjung ke sebuah peternakan sapi skala menengah di Malang dalam rangka studi banding. Aku tertarik dengan usaha yang lumayan besar itu, dengan total aset sekitar 2 M.
Pembicaraan menjadi gayeng, karena rupanya pak Didik, pemilik dan pengelola peternakan itu orang Madiun seperti aku. Di antara ceritanya soal usaha penggemukan sapi potong, pak Didik sempat bercerita tentang bagaimana dia sampai di daerah itu.
Sejak lulus kuliah tahun 1984, dia merasa tidak nyaman di rumah. Dia enggan pulang ke kampung halamannya di Madiun, sebab di daerah itu ada anggapan bahwa anak muda, terutama sarjana dianggap belum sukses kalau belum jadi pegawai.
Aku merasa geli mendengarnya, sebab itu pula yang aku alami saat menjelang selesai kuliah dulu. Alasan itu pula yang membuat aku enggan dan tak nyaman untuk pulang. Keluarga, orang tua, tetangga dan masyarakat memandang aneh ketika aku bilang tak ingin menjadi pegawai negeri. Semua mencemooh ketika aku bilang ingin berwirausaha. Mereka seolah sepakat bahwa, "sukses itu berarti menjadi pegawai"
Rupanya anggapan serupa juga berlaku di daerah lain. Di berbagai daerah juga banyak orang berbondong-bondong ingin menjadi pegawai. Mereka melakukan segala cara agar dapat segera diangkat menjadi pegawai negeri, mulai dari demonstrasi di jalanan sampai suap menyuap.
Seiring jalannya waktu, rupanya anggapan itu belum juga sirna dari alam pikiran orang Madiun. Kemarin aku sempat bertemu seorang ibu, istri tentara. Dia begitu prihatin pada anak-anaknya yang sarjana bekerja di PT INKA dan satunya buka toko. Dia merasa belum tenang kalau mereka belum menjadi pegawai pemerintah seperti ayahnya.
Padahal di sela ceritanya dia selalu mengeluh betapa selama ini kehidupannya sebagai istri TNI terasa pas-pasan. Dia baru merasakan punya rumah sendiri hingga 2 tahun menjelang pensiun. Dia bahkan belum pernah sekalipun menikmati rasanya memiliki mobil bekas, kecuali milik puteranya yang membuka usaha toko kelontong.
Dia tak akan bosan mencari jalan agar anaknya bisa menjadi pegawai. Dia bilang belum merasa tenang bilamana anak-anaknya masih berstatus orang swasta. Dia seakan lupa bahwa kehidupan putera-puterinya sudah jauh lebih baik dibanding saat dia dan suaminya baru mulai berumah tangga dengan status tentara.
Sungguh mengherankan, di tengah dinamika perekonomian nasional dan dunia saat ini ternyata masih terlalu banyak masyarakat berpikiran picik. Pemikiran era kolonial yang menganut negara pegawai (beemtenstaat) yang mendewa-dewakan status pegawai pemerintah masih begitu mendominasi alam pikiran para orang tua.
Mereka memandang status swasta (swa hasta) yang berarti kemandirian sebagai ironi hidup, bukan kemuliaan yang penuh harapan. Padahal ukuran kemajuan perekonomian diukur dari seberapa kuat kaum wirausahawan berkembang, bukan berapa banyak pegawai. Wirausaha adalah sisi dunia yang penuh harapan dan lebih menjanjikan kemajuan dibanding pegawai yang hanya bersifat instrumental.
Seharusnya anggapan semacam itu sudah usang dan selayaknya ditinggalkan. Sayangnya, aku sendiri belum mampu melepaskan diri dari pola pikir naif itu. Meski secara finansial bukan penopang utama ekonomi keluargaku, tapi aku masih dengan suka cita menjalani statusku sebagai pegawai negeri.
Posting Komentar