TRANSLATE

Jumat, 24 Desember 2010

YAYASAN KAKEHAN BATHI?

Seingatku baru dua kali aku bertemu wali muridku yang satu ini, sebut saja namanya pak Bawur. Walaupun baru dua kali aku jadi ingat dan tetap ingat wajah dan namanya, di antara wali murid yang aku tidak kenal namanya sama sekali.Yang membuat aku kenal beliau adalah bicara dan kritiknya yang ngawur dan asal bicara.

Tadi siang adalah kesempatan kedua aku bertemu dengannya dalam pertemuan yayasan dan wali murid. Semula aku tidak kenal bapak itu, tapi langsung teringat saat dia mulai menyampaikan pandangannya.

Dia mengulangi kritiknya yang ngawur beberapa tahun yang lalu. Dia bilang, "Yayasan itu mbok ya jangan hanya mencari keuntungan sendiri. Masak kita sudah bayar mahal-mahal guru-gurunya dibayar murah. Mengajar dari pagi sampai siang cuma dibayar 150.000. Itu kan keterlaluan?" katanya.

"Kita-kita ini juga bisa ngitung. Tiap anak itu mbayar berapa, total yang diterima yayasan itu berapa, gurunya dibayar berapa, sisanya berapa? Bagaimana guru-gurunya bisa betah kalau dibayar di bawah upahnya kuli?" Serentak wali murid yang sepaham dengan kengawurannya langsung menyahut, "Betul... betul..."

"Jadi, mbok ya kesejahteraan guru itu diperhatikan. Jangan hanya mikir keuntungan sendiri" lanjutnya. Wali murid yang pola pikirnya sengawur dia berkali-kali menyahut, "betul, pak... betul itu"

Aku tidak kaget mendengarnya, karena ini bukan kali pertama aku mendengar kritikan bodoh itu. Yang agak menarik adalah wali murid lain yang membenarkan apa yang dia katakan. Dengan wajah tetap tersenyum respek, aku berguman dalam hati, "Ternyata yang bodoh tidak hanya Pak Bawur itu saja"

Celakanya, dia sudah bodoh tapi sok tahu... Bagaimana tidak bodoh, kalau dia pikir ngurus sekolah itu hanya bayar guru dan beli kapur? Tentu saja aku malas menyikapi kritik semacam itu. Dijelaskanpun toh mereka tidak akan tahu dan tidak mau tahu. Kalaupun ditunjukkan RAPBS/RKAS dan realisasinya toh dia tidak akan "ngeh", karena dia hanya percaya pada pikirannya sendiri.

Saat ditanya, siapa guru yang dibayar sekian? Dia jawab, "saya tidak perlu sebutkan namanya" Dia juga bilang, sekolah ini terlalu banyak tarikan ini dan itu, bikin biaya makin mahal saja. Waktu kembali kami tanya, tarikan apa? Dia bilang, "Ya pokoknya ada, banyak, tapi saya tidak ingat"

Jelas itu hanya pernyataan ngawur. Bagaimana tidak ngawur, sedangkan tidak satupun guru/pegawai yang dibayar di bawah 200 ribu. Tukang sapu saja tidak mungkin kita bayar sekian. Bagaimana tidak ngawur, sedangkan di sekolah ini tidak ada tarikan apapun di luar pembayaran yang ditentukan sejak awal?

Percuma saja menjelaskan masalah seperti ini pada orang berotak dungu seperti itu. Otaknya tidak menjangkau, bahwa kebutuhan mengelola sekolah itu lebih rumit dari yang dia pikirkan. Matanya tidak bisa melihat, dari mana semua sarana dan prasarana itu ada? Apakah duit yang dia bayarkan cukup untuk membayar 1 orang pegawai, staf TU, atau guru ekstrakurikuler? Dasar orang bodoh!!!

Masalahnya, dalam konteks ini dia adalah konsumen yang harus dihargai. Apapun yang dia omongkan harus didengar meski tidak njuntrung. Dia seakan menjadi penguji keikhlasanku dalam mengelola sekolah ini. Dia sama sekali tidak menghargai berapa duit yang aku korbankan untuk mengelola sekolah selama ini? Berapa keuntungan yang aku dapatkan?

Bodohnya, dia tidak tahu bahwa aku sama sekali tidak diuntungkan dengan semua ini. Keuntungan materi tidak ada, pahala juga belum tentu dapat. Tapi ketemu orang bodoh seperti ini menyadarkan otak materialistisku, apa untungnya aku berfikir dan bekerja keras untuk anak2 mereka? Kenapa aku membuat sekolahan, membuat program ini itu, menghabiskan terlalu banyak tenaga, pikiran dan hatiku, bila hanya caci maki yang aku dapatkan?

Aku mulai berfikir, membuat sekolahan adalah perbuatan bodoh.... Berbuat baik adalah kebodohan?????
Posting Komentar