TRANSLATE

Jumat, 15 Juni 2012

POLA-POLA PENGUASAAN KELAS


Kemampuan guru menguasai kelas berbeda-beda. Ada guru yang mampu mengendalikan siswa dalam kelompok kecil dan besar sekaligus. Ada yang hanya mampu mengendalikan kelompok kecil saja, tetapi tidak jarang yang sudah kesulitan mengendalikan kelompok kecil sekalipun. Hal ini dikarenakan ketrampilan ini lebih sering berkembang berdasarkan pembawaan kepribadian dan kebiasaan guru dalam kehidupan sehari-hari.
Pembawaan kepribadian dan kebiasaan tersebut berupa kewibawaan yang bersifat bawaan, tensi emosional dan kemampuan berkomunikasi. Karena itu, pola-pola penguasaan kelas dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu berdasarkan kewibawaan, tensi emosional dan komunikasi efektif.
1.   Mengandalkan Kewibawaan
Guru yang berpembawaan wibawa pada umumnya lebih mudah mengendalikan kelas, karena kehadirannya di tengah siswa sudah menjadi pusat perhatian, didengar, diperhatikan dan diikuti instruksinya. Guru yang kurang berwibawa memerlukan usaha ekstra agar siswa memberikan respon sebagaimana guru yang kurang berwibawa. Guru demikian membutuhkan waktu untuk belajar agar dihargai, diperhatikan dan diikuti instruksinya oleh siswa.
2.   Mengandalkan Tensi Emosional
Pola ini banyak dilakukan oleh guru yang belum profesional dan paling umum menjadi andalan guru dalam menguasai kelas. Penguasaan kelas pola ini ditandai dengan munculnya ucapan, sikap dan kadang tindakan kekerasan, berupa bentakan, ancaman (intimidasi), ungkapan bernada tinggi, hardikan, dan sikap-sikap serta tindakan bernada emosional lainnya.
Profesionalitas guru dapat dilihat dari seberapa sering guru menggunakan kekerasan dalam mengendalikan kelas. Guru professional dengan sendirinya akan menghindari penggunaan kekerasan baik yang bersifat verbal maupun fisik. Sebaliknya, penggunaan kekerasan apapun bentuknya menunjukkan kemampuan yang belum memadai dalam berkomunikasi dan mengatasi persoalan.
3.   Mengandalkan Komunikasi Efektif
Pola ini merupakan salah satu indikator guru profesional. Penguasaan kelas pola ini ditandai dengan mengemukanya ungkapan-ungkapan simpatik, sugestif dan menarik perhatian yang membuat siswa mendengar, memperhatikan dan mengikuti instruksi guru.
Bagi sebagian besar orang, menerapkan komunikasi efektif bukan hal mudah, terutama karena faktor kebiasaan dan pengalaman belajar yang melekat di bawah sadarnya. Kemampuan komunikasi yang efektif sebagai wahana penguasaan kelas dapat dipelajari bila guru bersedia mengubah pola pikir, berlatih dan membiasakan diri dengan pendekatan baru dalam pengendalian kelas.  
Posting Komentar