TRANSLATE

Jumat, 15 Juni 2012

BELAJAR DARI PEMARAH


Sejak mendirikan lembaga pendidikan, saya sudah ratusan kali ketemu orang yang marah-marah dengan segala ekspresinya, dengan segala sebab dan alasannya. Masa-masa sejak mendirikan sekolah merupakan episode pertunjukan kemarahan paling banyak dan paling sering yang  pernah kutemui seumur hidup. 
Ada beragam ekspresi kemarahan. Ada yang kadarnya ringan-berat, ada yang lama-sebentar, ada yang seakan dibawa sampai mati, ada yang ekspresif, ada yang diam-diam. Ada yang marah dengan cara kasak-kusuk, ada yang ngomel, ada yang nyerocos asal bicara, ada yang memaki-maki, ada yang mengumpat-umpat, ada yang mengundurkan diri tiba-tiba alias "mutung", ada yang mengancam-ancam, dan ada pula yang diam-diam menjegal. Pokoknya komplit!

Hampir semua jenis orang pernah marah padaku dan lembaga pendidikanku secara langsung ataupun tidak. Wali murid, guru, pegawai, tetangga, bahkan beberapa kali guru sekolah dan aparat dinas yang  tidak pernah kenalpun ada yang pernah mengumbar amarahnya.
Pada awalnya, amarah mereka terasa dan begitu mempengaruhiku, tapi lama kelamaan amarah orang menjadi hal biasa buatku. Mungkin itu karena terlalu seringnya kena damprat orang. He, he, he...
Yang pasti kemarahan orang tak lagi membuat nyali menjadi ciut, bahkan membuat pribadi terasa kian dewasa dan kuat. Belajar dari peristiwa demi peristiwa membuat aku bahkan menjadi sedikit apriori. Aku yakin orang yang mudah mengumbar amarah pasti sedang bermasalah dengan dirinya sendiri. 
Mereka hanya butuh melampiaskan emosi dengan cara menghukum orang lain, tak peduli apapun persoalannya. Orang yang sedang marah berarti sedang sakit jiwa, setidaknya kehilangan kendali atas emosinya. Penyebab kemarahan buka  orang lain, karena penyebab itu ada pada diri sang pemarah. Mereka hanya butuh sesuatu atau orang lain untuk memicu amarahnya. 
Mereka harus dikasihani dan bila sempat perlu diantar ke psikiater atau rumah sakit jiwa. Singkat kata, pemarah hanya butuh orang orang lain sebagai  korban ketidakwarasannya. Filosof dan psikolog klasik memandang kemampuan seseorang menempatkan amarah sebagai petunjuk tinggi-rendahnya kualitas mental seseorang. Mudahnya seseorang mengumbar amarah menunjukkan akal sehatnya sedang error, alias tidak berfungsi dengan baik. Dalam bahasa filsafat klasik, kemarahan menunjukkan nalar rasional (an-nafs an-nathiqah) dikalahkan oleh nalar emosional (an-nafs asy-syahwaniyah atau al-ghadlabiyah), sehingga tak mampu lagi menyikapi dan menyelesaikan masalah secara bijak.
Bila  bertemu orang yang sedang marah apapun bentuknya, maka pahamilah bahwa kita sebenarnya sedang apes saja, karena harus bertemu wong edan (orang gila), sedang kumat gendhenge (sakit gilanya sedang kambuh), minimal orang yang akal sehatnya sedang kehilangan kontrol atas emosinya.
Mungkin sedikit sarkastik. Saran terbaik menyikapi amarah adalah sing gendheng ben gendheng (yang gila biar gila), tidak perlu ikut-ikutan gendheng (gila). Petuah orang tua dulu, Sing waras ngalah (yang normal alias tidak gila sebaiknya mengalah). 
Semoga bermanfaat.

Posting Komentar