TRANSLATE

Jumat, 16 Desember 2011

MENGELOLA LIBURAN SEKOLAH YANG BERMAKNA


Liburan sekolah di Indonesia akhir-akhir ini mendapat alokasi waktu yang cukup panjang dibanding masa-masa sebelumnya. Libur semester 1 atau semester gasal berlangsung 2 minggu dari sebelumnya yang hanya 1 minggu. Libur semester 2 atau semester genap berlangsung 3 minggu dari sebelumnya yang hanya 2 minggu.
Panjangnya masa liburan menjadi masalah tersendiri, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah dan bagi keluarga yang tidak mengagendakan liburan sekolah sebagai momen istimewa. Apalagi liburan sekolah tidak selalu bersamaan dengan liburan hari kerja di perusahaan dan instansi pemerintah, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengisi liburan bersama keluarga.
Sebagian sekolah lebih suka membiarkan liburan berlangsung begitu saja, tanpa agenda yang dipandu melalui sekolah. Siswa dapat memilih kegiatan liburan sesuai dengan kondisi masing-masing. Akibatnya, liburan tidak jarang menjadi momen yang menjemukan bagi sebagian siswa dan bagi siswa yang lain bahkan mengarahkan mereka pada hal-hal yang tidak konstruktif.
Liburan yang tidak terkelola dengan baik telah mengubah sikap, perilaku dan kebiasaan-kebiasaan dari konstruktif menjadi sebaliknya. Panjangnya masa liburan bahkan dikeluhkan oleh sebagian besar wali murid. Liburan yang tidak konstruktif telah membuat anak-anak mereka kecanduan game on line, berubah menjadi pemalas, kecanduan nonton TV, serta berkembangnya sikap dan perilaku yang tidak konstruktif lainnya.
Oleh karena itu, ada baiknya sekolah bersama wali murid mengelola kegiatan liburan agar bermakna positif bagi siswa. Pada prinsipnya, sekolah dan orang tua murid mengupayakan agar hari libur tidak membuat anak kehilangan inisiatif, jati diri  dan kesenangan yang seharusnya mereka nikmati selama masa liburan. Di antara cara mengelola liburan agar bermakna adalah:
1.      Membiasakan anak merencanakan kegiatan liburannya.
Hilangnya makna liburan biasanya terjadi karena kegiatan liburan terlepas dari agenda kegiatan siswa. Ada baiknya sekolah atau orang tua membicarakan kegiatan yang akan dilakukan siswa selama masa liburan. Bila perlu anak diminta menyusun rencana kegiatan liburan mereka.
Perencanaan liburan memungkinkan anak tidak kehilangan arah selama masa liburan karena tahu apa saja kegiatan liburan yang akan mereka lakukan. Mereka dapat memilih kegiatan mana yang bermanfaat dan menyenangkan selama liburan dan hasilnya.
Selain melatih ketrampilan perencanaan sebagai keahlian hidup (life skills) yang penting bagi kehidupan mereka, perencanaan liburan memungkinkan anak terbiasa menjalani hidup dengan tujuan yang jelas. Orang tua dan guru dapat memantau apa saja yang akan dilakukan anak selama liburan, dan memberikan dukungan dengan berbagai cara.
2.      Membiasakan anak merekam atau mendokumentasikan kegiatannya selama liburan.
Dokumentasi menjadi hal penting yang perlu dilakukan sebagai hiburan maupun refleksi atau pembelajaran atas apa saja yang mereka lakukan. Dokumentasi kegiatan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, yang masing-masing memiliki makna dan urgensinya sendiri. Di antara bentuk rekaman atau dokumentasi kegiatan liburan di antaranya dalam bentuk:
a.      Foto-foto
Foto-foto kegiatan akan menjadi memori tersendiri yang memungkinkan siswa mengenang kegiatan liburan, bahkan menceritakannya berdasarkan gambar.
b.      Hasil karya
Kegiatan liburan dapat diisi dengan berkarya. Siswa dapat didorong untuk mengisi liburan dengan belajar membuat suatu karya atau produk berupa kerajinan tangan, elektronika dan sejenisnya. Produk yang mereka hasilkan akan memberikan makna tersendiri bagi siswa, berupa kebanggaan dan beragam cerita mengenai suka duka yang mereka lalui selama berkarya.
c.       Catatan harian
Mencatat kegiatan selama liburan merupakan satu bentuk latihan tersendiri dalam mengekspresikan pengalaman dan ide-ide. Pencatatan kegiatan harian akan sangat membantu mereka dalam melatih ketrampilan bahasa tulis. Ada baiknya, catatan harian menjadi salah satu penugasan sekolah bagi siswa selama liburan. Selain sebagai wahana melatih ketrampilan bahasa, dan kepekaan atas dokumentasi, catatan dapat menjadi bahan refleksi bagi siswa dan sekolah untuk mengembangkan kegiatan liburan yang lebih baik.
3.      Refleksi kegiatan liburan.
Salah satu hal paling menyenangkan setelah liburan adalah berbagi cerita perihal kegiatan liburan yang dijalani kepada orang lain. Anak-anak yang berlibur di luar kota biasanya dengan bangga bercerita kegiatan liburannya, tetapi mereka liburan yang tidak bermakna akan membuat mereka tidak antusias untuk menceritakannya.
Oleh karena itu, ada baiknya guru membiasakan bertanya tentang kegiatan liburan siswa pada hari pertama masuk sekolah. Hari pertama masuk sekolah akan menjadi hari yang menyegarkan bila masing-masing anak dapat bercerita dengan antusias mengenai kegiatan liburan mereka.
Dengan begitu, pertanyaan mengenai kegiatan liburan akan menjadi pertanyaan menarik bagi mereka yang menjalani liburan penuh makna. Ini memungkinkan anak terdorong untuk mengisi liburan dengan berbagai kegiatan yang penuh arti. Cerita tentang liburan akan penuh warna, bila liburan biasa direncanakan dengan baik. Pada gilirannya, anak akan terbiasa membangun kegiatan liburan terbaik dan menikmati apapun bentuk liburan yang mereka pilih, serta dengan bangga menceritakannya pada orang lain.
Posting Komentar