TRANSLATE

Sabtu, 25 Desember 2010

ADAKAH SARJANA YANG DAPAT MENGAJI?

Seperti mengulang "penyakit" SD Islam Darush Sholihin selama beberapa tahun terakhir, mencari sarjana calon guru yang "teteh mengaji" (mampu membaca al-Qur'an dengan baik dan benar) ternyata bukan masalah mudah. Sulit! Bahkan sarjana keluaran perguruan tinggi agama Islam (PTAI) tidak semua mampu mengaji secara layak.

Tahun lalu, dari 22 orang guru dan pegawai SD Islam Darush Sholihin, tercatat hanya 3 orang yang terkategori mampu mengaji secara layak. Sebagian besar sudah melampaui batas tleransi, sebab sejak awal mereka sudah "diwanti-wanti", bila selama 2 tahun masa pengabdiannya tetap tidak mampu mengaji secara layak, maka berarti mereka tidak layak untuk dipakai sebagai guru di SD Islam Darush Sholihin.

Karena itu, keluarnya sebagian guru sekolah ini di akhir tahun pelajaran 2009-2010 sama sekali tidak layak disesali. Perlu diketahui, bahwa kondisi itulah yang menjadi penyebab utama kegagalan pencapaian target pembelajaran diniyah (al-Qur'an, hifdziyah juz 'Amma, maqari mukhtarah dan materi diniyah lainnya) di sekolah ini selama 2 tahun terakhir. Bagaimana mungkin siswa akan mampu belajar dengan baik, bagaimana mungkin guru mampu mengajarkan secara optimal, sedangkan gurunya sendiri tidak menguasai apa yang seharusnya diajarkan pada siswa-siswanya?

Tahun ini, bukan berarti masalah serupa tak terulang, sebab kenyataannya masih banyak pula guru yang ternyata belum mampu mengaji dengan baik, bahkan ada yang masih buta al-Qur'an sama sekali. Kenyataan itu kami temukan saat latihan mengaji bersama. Sebagian guru tidak bersuara, sebagian lagi hanya menggerakkan bibirnya sambil menunduk, dan sebagian lagi pura-pura sibuk mengerjakan pekerjaan lain.

Setelah dicoba satu persatu baru ketahuan, ada guru yang kemampuan mengajinya masih minim, bahkan ada yang sama sekali belum bisa. Meski demikian, ada sisi positif dari formasi guru SD Islam Darush Sholihin kali ini. Mereka dengan terbuka mengakui kekurangannya dan berniat terus belajar memperbaiki kekurangannya, bukan karena tuntutan sekolah melainkan karena merasa membutuhkan kemampuan mengaji.

Lumayan, kali ini setapak lebih baik dibanding sebelumnya. Kemauan adalah modal terpenting bagi setiap orang untuk berkembang lebih baik. Kemauan guru untuk terus belajar merupakan pertanda baik bagi siswa-siswanya, sebab semangat dan kemauan mereka pasti berdampak positif bagi bangkitnya kemauan dan semangat belajar siswa-siswanya.

Syukurlah. Keterpurukan kualitas pembelajaran di sekolah ini kian terbuka untuk diperbaiki. Sulit dibayangkan bagaimana kualitas pendidikan di sekolah sekolah ini akan membaik, bilamana ketidakmampuan guru dan kepala sekolah justeru ditutupi dengan gengsi dan egoisme yang mengatasnamakan harga diri seperti masa-masa sebelumnya, bukannya dengan kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Masa gara-gara bacaan salamnya dibetulkan sudah marah-marah? Sekali lagi Alhamdulilllah, mereka yang bermental seperti itu tak lagi bersama SD Islam Darush Sholihin.
(Salinan Senin, 16 Agustus 2010)
Posting Komentar