TRANSLATE

Kamis, 29 Oktober 2009

SEDIKIT KEKACAUAN DI DARUSH SHOLIHIN

Ini hari terhebat yang pernah aku lalui dalam mengelola lembaga Darush Sholihin. Kelihatannya kali ini baru benar-benar masalah.
Mengingat kinerjanya yang jauh dari memadai selama ini, akhirnya aku memberhentikan pak Helmi dari jabatan kepala sekolah dan memutasikan dia ke jabatan personalia yayasan. Ini benar-benar keputusan dengan pertimbangan profesionalitas saja, tidak lebih.
Pak Helmi memiliki kelebihan menonjol di bidang leadership dan kompetensi sosial. Itu sebabnya dia mampu menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan banyak orang, terutama wali murid dan pejabat dinas pendidikan.
Masalahnya, kompetensi profesi yang dia miliki, baik berupa kompetensi edukatif, managemen, dan administratif sama sekali tidak memadai. Sekian tahun menjadi kepala sekolah, dia belum sekalipun mampu menyusun program kerja, bahkan untuk sub tugas pokok saja, program pembelajaran.
Dia tidak tahu administrasi keuangan, tidak tahu teknis pelaporan BOS, tidak tahu bagaimana melaksanakan supervisi. Praktis, semua tugas yang seharusnya menjadi bidang tugasnya, menjadi beban kami. Sementara itu setiap sukses yang diperoleh sekolah, dialah yang mendapatkan nama baik. Ironisnya, ini dia jadikan “senjata” untuk melawan keputusanku secara diam-diam.
Keputusan ini sendiri, secara ekonomis sebenarnya tidak merugikannya. Gajinya tidakberkurang. Dia bahkan bisa kerja sambilan diluar Darush Sholihin.
Hanya saja, rupanya masalah ini baginya bukan semata masalah uang, melainkan harga diri. Status sebagai kepala sekolah ternyata begitu berarti baginya. Dia hanya memiliki satu di antara dua pilihan. Jadi kepala sekolah atau tidak sama sekali.
Pak Helmi rupanya tidak terima atas keputusanku untuk memberhentikannya dari jabatan kepala sekolah. Secara diam-diam dia menggerakkan emosi wali murid yang dekat dengannya untuk menentang keputusanku. Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan aku hadapi Sabtu besok.
Sikap sebagian wali murid menjadi tidak proporsional lagi dalam menyikapi keputusan ini, sebagaimana pak Helmi yang tidak bersedia melihat duduk permasalahan yang sebenarnya. Mereka menyikapi keputusan ini dengan mengedepankan emosi, sebagaimana halnya pak Helmi, apalagi istrinya, bu Yuli.
Yang jelas, aku tetap pada pendirianku. Aku harus mengakhiri praktik managemen sekolah yang menjadikan aku sebagai tumbal. Kepala sekolah harus bertanggung jawab sendiri terhadap pelaksanaan tugasnya.
Bagiku tidak pernting lagi, sekolah ini maju atau tidak. Apa untunya bagiku bila sekolah ini maju, sementara aku hanya jadi tumbal bagi nama baik orang lain? Aku yang bersusah payah, sementara orang lain yang sebenarnya tidak becus mengelola lembaga pendidikan menikmatinya. Lebih parah lagi, semua yang aku lakukan dan membesarkan namanya, dia gunakan sebagai senjata untuk melawanku.
Harus tegar
Aku tidak punya pilihan lain selain harus tegas dengan keputusan ini. Aku tidak mungkin tunduk pada mereka yang hanya mengedepankan emosi. Aku tidak mungkin menyerah pada mereka yang sebenarnya hanya “mbelani” pertemanan.
Aku yang tahu masalahnya. Aku pula yang harus menyelesaikannya. Mungkin akan ada beberapa kerugian yang harus kutanggung akibat prahara ini, tapi aku yakin, di setiap bencana selalu ada yang tersisa. Dari sanalah aku akan memulai kembali hidupku.
Aku yakin, inilah cara Tuhan memberikan jalan terbaik. Merekrut orang-orang gila hormat sangat beresiko, dan ini merupakan langkah kecil untuk membersihkan penyakit ini dari kehidupan lembaga pendidikanku ini. Semoga saja.
Posting Komentar