TRANSLATE

Senin, 16 Februari 2009

DIBOHONGI MAHASISWA

Setiap akhir semester selalu ada mahasiswa yang komplain karena nilainya tidak keluar. Aku sudah hafal, mereka pasti mahasiswa yang biasanya tidak aktif kuliah, tapi minta nilai dan minta lulus pastinya. Aku sudah 14 tahun jadi dosen, dan hampir 20 tahun jadi mahasiswa. Jadi, kalau bohongin dosen atau dibohongin mahasiswa rasanya sudah hafal luar dan dalam. Bahkan seharusnya aku lebih tahu bagaimana berbohong atau dibohongin dibanding mahasiswa-mahasiswaku, karena referensi sosiologis dan antropologis yang aku miliki jauh lebih banyak dibanding mahasiswaku. Sudah begitu, kok ya masih ada yang berani berbohong padaku.
Kecuali mahasiswa yang komplain nilai karena memang nilai tugas matakuliahnya belum sempat aku up load atau publikasikan, argumentasi mahasiswa pembohong selalu sama, "Pak, saya masuk terus kok nilai saya kosong?". Mahasiswa yang lain mengklaim, "Pak, saya selalu menyerahkan tugas, tapi kok ada kosong?"
Beberapa hari yang lalu ada beberapa mahasiswa (pembohong) yang komplain lewat telepon, "Pak, saya masuk terus, tapi nilai saya kok kosong?"
Saya jawab, "Ya, tugas kamu yang ke 1, 2 dan 3 kosong"
"Gimana dong, pak?" tanyanya.
"Ya, kamu harus bikin lagi" jawabku tegas.
"Tugasnya apa, pak?"
"Ya, seperti tugas kelas biasanya. Kamu ngerasa pernah buat apa tidak?"
"Saya buat. Saya nyerahkan terus"
"Kalau gitu buat lagi yang seperti itu. Serahkan saya Rabo di kampus"
Dalam hati aku sudah tahu, mahasiswa ini sudah bohong padaku. Bagaimana mungkin mereka sudah menyerahkan tugas, dengangkan tugasnya kaya apa mereka tidak tahu? Seharusnya aku tidak menanggapi mereka, karena jelas-jelas sudah tidak aktif kuliah dan masih ditambah bohong lagi. Tapi karena aku sedang banyak kesibukan, aku biarkan saja, dan kulayani seolah tidak ada apa-apa.
Benar saja. Sehari kemudian dia telepon lagi, "Pak, saya tanya teman-teman, tugasnya kaya apa kok nggak ada yang bisa kasih tahu. Bisa kasih penjelasan?"
"Kamu masuk kuliah, nggak?"
"Masuk, pak. Saya aktif, saya masuk terus"
"Tanya teman kamu yang lain saja, kutunggu rabo" jawabku singkat
Ha, ha, ha... Dalam hati saya tertawa, meski dalam hati sedih dan marah. Gimana tidak, katanya masuk terus, kok nggak tahu tugasnya seperti apa? Ini kan aneh????
Hanya saja, rasanya nggak tega menghukum mereka. Saya pura-pura saja tidak tahu kalau mereka bohong. Saya kehilangan simpati dan empati saya, meski sebagai pendidik seharusnya saya tidak boleh demikian. Bagi saya, mahasiswa-mahasiswa itu tidak ada, bukan manusia, karena tidak punya etika dan tanggung jawab moral.
Selama ini saya memang tidak pernah memberikan Ujian Tengah Semester (UTS), Ujian Akhir Semester (UAS) dan satu tugas matakuliah seperti dosen pada umumnya. Aku sudah hafal, mereka yang tidak aktif kuliah dan dicekal saat mengikuti UTS dan UAS karena presensi tidak memenuhi syarat pasti minta rekomendasi, dan dengan terpaksa aku berikan. Karena itu, beberapa tahun terakhir saya lebih suka melakukan penilaian proses.
Setiap sesi perkuliahan, mahasiswa selalu mengerjakan sesuatu dan itu yang saya jadikan penilaian. Karena itu, mahasiswa yang tidak hadir pasti nilainya bolong. Tidak usah mengabsen saja saya sudah tahu apakah mereka masuk atau tidak, karena hasil kerja mereka di kelas itulah yang saya jadikan bukti kehadiran mereka. Kalau ada yang mengklaim menyerahkan tugas, sementara dia sendiri tidak tahu tugasnya seperti apa, itu jelas-jelas bohong.
Kalau ada yang komplain, dan bilang "Saya masuk terus kok nilai saya kosong?" atau "Saya sudah menyerahkan tugas kok nilainya kosong, saya bisa pastikan bahwa mereka berbohong. Padahal kebohongan adalah sesuatu yang paling buruk di mata saya, dan mungkin di mata Allah. Kebohongan adalah pangkal dari semua kejahatan, kerusakan.
Sampai saat ini saya hanya bisa mencatat nama-nama mereka di buku memori mengajarku, manusia-manusia yang tidak bisa dipercaya, manusia-manusia paling menyedihkan di mata saya, karena mereka anak didik saya.
Andai saja mereka mau jujur, saya pasti menghargai mereka lahir dan batin. Seperti semester kemarin ada beberapa mahasiswa yang membuat tugas plagiat dan mengakui kesalahannya, saya dengan lapang hati membantunya dan memberinya kesempatan membuat tugas perbaikan.
Meski demikian, kali ini saya berusaha tidak menampakkan rendahnya pandangan saya pada mahasiswa pembohong itu. Saya tidak akan menghukum mereka, tapi dengan tulisan ini saya berharap mereka sadar atas perbuatannya. Kalau ternyata mereka tidak juga sadar dan berubah aku rasa ini adalah semester terakhir saya mentolerir kebohongan mereka.
Posting Komentar